EINSTEIN MENCARI TUHAN

Februari 7, 2009 at 6:20 am 5 komentar

einstein-copyArtikel ini saya muat adalah resensi dari buku

JUDUL         : EINSTEIN MEMBANTAH TAURAT DAN INJIL

PENULIS   : Wisnu Arya Wardhana

PENERBIT : Pustaka Pelajar, jogjakarta

CETAKAN  : I, 2008

TEBAL         : XXXIV+258 halaman

resensi ini ditulis oleh A. Yusrianto Elga dan telah diterbitkan oleh Jawa Pos 1 Februari 2009

 

Albert Einstein adalah salah satu sosok pemikir yang sangat dikagumi sekaligus sangat dibenci di pengujung abad 20 dan bahkan hingga kini. Kenapa demikian? Karena selain penemuan-penemuan spektakulernya di bidagn sains dan teknologi yang sulit ditandingi oleh para ilmuan pada masanya, Einstein kerap melancarkan kritik pedas pada gereja dan dokrin-dokrinnya yang dianggap tidak rasional. Menurut Einstein gereja telah melakukan “PEMBODOHAN MASAL” dengan konsep ketuhanan yang tidak masuk akal.

             Kritik yang disampaikan Einstein tersebut sebenarnya berkat dari kegelisahannya ihwal eksistensi Tuhan yang tidak kunjung ditemuka. Ia tidak puas dengan sosok Tuhan yang dipersonalkan atau digambarkan mirip manusia (antropomorfisme) dalam Alkitab Injil. Selain itu, Ia juga mengkritik filsafat ketuhanan yang dikembangkan oleh gereja yang terkenal dengan trinitas. Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Sampai akhir hayatnya. Einstein belum menemukan jawaban yang rasional terkait dengan filsafat ketuhanan tersebut.

            Dalam logika Einstein yang mendasarkan pikirannya pada fisika dan matematika, Tuhan yang dipersonalkan jelas tidak masuk akal. Karena itu, dengan tegas ia menolak: “Tentang Tuhan saya tidak dapat menerima suatu konsep apa pun yang berdasarkan otoritas gereja. Sepanjang yang saya ingat, saya membenci indokrinasi missal. Saya tidak mengimani karena takut akan kehidupan, takut akan kematian, maupun iman yang buta…” (hal 153).

            Pernyataan Einstein tersebut tak pelak membuat panas telinga para pemuka agama Nasrani. Ia dianggap mengingkari Al-Kitab yang seharusnya diimani tanpa harus diperdebatkan lagi. Einstein memang cukup berani membongkar sekian ayat yang terdapat dalam kitab Injil yang tidak sesuai dengan nalar logikanya. Ia sama sekali tidak mengimani Injil sebagai sabda Tuhan karena sepanjang penelitiannya terdapat pertentangan antara Injil yang satu dengan yang lainnya. Dalam Injil Yohanes, misalnya, Einstein melihat ada pertentangan ayat yang sangat mendasar dengan Injil Barnabas (The Gospel of Barnabas) yang naska aslinya ditemukan di The Emperial Library Wina, Austria. Atas dasar innilah Einstein semakin tidak yakin akan kebenaran Injil. Apalagi fakta sejarah menunjukkan bahwa ketika Paus St. Glasius I bertahta pada 492-496, Vatikan secara resmi melarang Injil Barnabas beredar dan dibaca oleh umat Kristen.

            Einstein menilai keputusan tersebut sangat paradoks dan sulit diterima oleh akal sehat. Sehingga dengan lantang ia menuduh Paus telah melakukan camput tangan dalam penulisan Ijil.

            Kritik pedas inilah yang membuat vatikan kegerahan. Einstein dianggap terlalu berlebihan dan mengada-ada. Pihak gereja kemudian bergerak lebih cepat untuk menyikapi apa yang telah dikemukakan pemikiran yang berpengaruh itu agar tidak mereduksi keimanan umat Kristiani di seluruh dunia.

            Seorang pemuka agama Nasrani yang berasal dari Lutheran Church of  our Savior, yakni pendeta Carl F. Weldman menanggapi dengan keras pendapat Einstein yang menolak Tuhan dipersoalkan :

            “Tidak ada Tuhan selain Tuhan personal! Einstein tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya. Dia salah total!” (hal 165) Dalam pendangan Carl F. Weldman, pernyataan Einstein bukanlah termasuk bagian dari pencarian hakiki akan eksistensi-Nya. Akan tetapi hanyalah sebentuk provokasi yang tidak didasari oleh iman yang kuat.

            Sri Paus Yohanes Paulus II yang bertahta di Vatikan juga ikut menyerang Einstein: “Mengingatkan bukti-bukti ilmian tentang Tuhan sama dengan merendahkan Tuhan ke derajat wujud-wujud dunia kita dan karenanya kita akan keliru secara metodologis berkenan dengan apa itu Tuhan, ia tidak bias mengukuhkan ataupun mengingkari eksistensi-Nya…..” (hal 169).

            Semua umat Kristiani yang menerima filsafat ketuhanan dengan modal iman jelas menganggap Eistein sebagi pengingkaran (kafir). Ilmuan penerima Nobel yang pada akhir hayatnya kedua bola matanya dijugil untuk diawetkan itu dituduh atheis karana logika berpikirnya tidak sejalan dengan Al-Kitab.

            Tuduhan yang sama sebenarnya juga dilancarkan oleh para pemuka agama Yahudi yang mengangap Einstein anti Tuhan karena telah berani menolak untuk menjalani bar mitzvah, yaitu upacara untuk menjadi komunitas orang Yahudi. Sebagaimana diulas oleh Wisnu Arya Wardhana dalam buku ini, sejak kecil Einstein memang hidup dengan “dua agama” Yahudi dan  Katholik . Jika pada pagi hari ia belajar agama Katholik di Katholik Petersschule, sedangkan sorenya ia menerima pelajaran agama Yahudi dari Alexander Moszkowski, guru privat yang sengaja didatangkan oleh orang tuanya. (hal 45).

            Dengan demikian, Einstein sudah mempelajari dengan cukup cermat isi kita Talmut (Taurad) dan Al-Kitab (Injil). Sejak masih kecil, yakni saat masih berumur 7 tahun. Walaupun pada saat itu ia belum berani melakukan koreksi terkait beberapa ayat yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya.

            Hidup dengan agama dua bukanlah sesuatu yang aneh bagai Einstein, Ia belajar agama Yahudi karena leluhurnya , sedangkan pelajaran Katholik ia dalami tak lain karena pencarinanya akan eksistensi Tuhan. Namun sepanjang yang dipelajari Einstein dari kedua Kitab Suci tersebut, yaknni Taurat dan Injil, sosok Tuhan yang sesuai dengan jalan pikirannya tak juga ditemukan.

About these ads

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

WANITA SHOLEHAH DAJJAL TANDA KIAMAT

5 Komentar Add your own

  • 1. getdesk  |  Februari 24, 2009 pukul 3:18 am

    Wisnu Arya Wardhana itu siapa ya?
    referensi nulisnya dari siapa ya?

    Acuan bukunya dari buku apa ya?
    apa Wisnu ini pernah bertemu langsung dengan nara sumber…

    buku ini murni pendapat wisnu atau siapa…

  • 2. uus  |  Februari 24, 2009 pukul 4:00 am

    sayangnya einstein belum mengkaji konsep Ketuhanan Islam….

  • 3. sukma  |  Desember 3, 2009 pukul 7:04 am

    truusss,,,ahirnya einstein menganut agama apaan donk

  • 4. mkg  |  Februari 19, 2010 pukul 9:17 am

    pada akhirnya ketika einstein mau menghembuskan nafasnya ( setelah dia akan meninggal ) dia mengakui bahwa ada “kekuatan” di dunia dan alam semeta ini yang melebihi segalanya !

    itu kata temen saya ahli kimia yang pernah membaca biografinya Albert Einstein

  • 5. New Gilang Kusuma (@gilangjetaime)  |  Oktober 6, 2014 pukul 11:35 pm

    seandainya saja pada saat masa pencarian eksistensi Tuhan dalam dirinya itu Einstein belajar tentang Islam, kemungkinan besar ia akan masuk Islam karena hemat saya agama Islam merupakan agama yang logis, realistis dan fleksibel sehingga sesuai dan tepat dengan perkembangan zaman.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


YM Online

Flickr Photos

Picture

More Photos
sunatullah.com

kalender posting

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: